
DEKLARASI | LHOKSEUMAWE – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Labuhan Batu (IMLAB), dan Himpunan Mahasiswa Labuhan Batu Utara (HIMLABURA) mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Menolak Jadi Oposisi Abadi: Berani Masuk Sistem Tanpa Kehilangan Idealisme” yang digelar di Aula Wali Kota Lhokseumawe, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk mendiskusikan peran strategis generasi muda dalam mengawal perubahan melalui keterlibatan aktif di dalam sistem tanpa meninggalkan nilai-nilai idealisme.
Ketua Panitia, Resa, mengatakan bahwa FGD tersebut diselenggarakan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkuat kolaborasi antarlembaga mahasiswa dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Kegiatan ini kami laksanakan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan. Selain itu, kami ingin mengingatkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut kritis terhadap setiap kebijakan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang solutif serta berkontribusi secara nyata di dalam sistem,” ujar Resa.
Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua I (Ketua Harian) DPD KNPI Lhokseumawe, Reza Rizki, S.Sos., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter kritisnya.
Menurut Reza Rizki, semangat gerakan mahasiswa pada era reformasi 1998 identik dengan gerakan kritis transformatif. Namun, tantangan saat ini menuntut mahasiswa untuk mengambil peran yang lebih luas dengan terlibat langsung dalam proses pembangunan dan pengambilan kebijakan.
“Senior mahasiswa tahun 1998 itu identik dengan gerakan kritis transformatif. Sekarang mahasiswa harus mengikuti perkembangan zaman dengan menjadi kritis partisipatif,” ungkapnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pemateri kedua, Sekretaris Bidang Keagamaan KNPI, Ramazana, S.Sos., yang menilai bahwa perubahan tidak cukup dilakukan melalui kritik dari luar sistem, tetapi juga memerlukan keberanian untuk terlibat secara langsung.
“Mahasiswa harus berani mengubah sistem, dan perubahan itu dilakukan dari dalam. Meskipun tidak bisa mengubahnya seratus persen, setidaknya akan ada perubahan yang dapat diwujudkan,” kata Ramazana.
Selama diskusi berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Berbagai pertanyaan, pandangan, dan gagasan disampaikan dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Forum ini menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga idealisme di tengah dinamika sosial, politik, dan pembangunan bangsa.
Melalui kegiatan ini, PMII, IMLAB, dan HIMLABURA berharap kolaborasi antarlembaga mahasiswa dapat terus diperkuat sehingga mampu melahirkan gerakan yang tidak hanya kritis dalam menyikapi persoalan, tetapi juga aktif memberikan solusi dan berkontribusi dalam proses pembangunan. FGD ini diharapkan menjadi awal lahirnya gagasan-gagasan strategis yang dapat diwujudkan melalui kerja sama nyata antara mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan berbagai pemangku kepentingan demi kemajuan daerah dan bangsa. AAN
Komentar