Aceh
Beranda | Adaptasi dan Inovasi Kader PMII di Tengah Arus Globalisasi dan Digitalisasi

Adaptasi dan Inovasi Kader PMII di Tengah Arus Globalisasi dan Digitalisasi

Adaptasi dan Inovasi Kader PMII di Tengah Arus Globalisasi dan Digitalisasi
Foto: Irfan Anshori, Wakil 3 PMII Unimal

DEKLARASI | Aceh Utara – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kini berada di persimpangan jalan sejarah yang krusial. Di tengah gempuran roda globalisasi yang menghapus batas antarnegara dan akselerasi digitalisasi yang mengubah pola interaksi sosial, kader PMII dituntut untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan motor penggerak perubahan.

Menghadapi tantangan global dan revolusi industri 5.0, kader PMII harus melakukan reorientasi gerakan. Tidak lagi cukup hanya dengan diskursus ideologis di ruang-ruang diskusi konvensional, kader saat ini wajib menguasai literasi digital dan memperluas jejaring internasional tanpa kehilangan jati diri sebagai insan pergerakan yang berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Transformasi Digital sebagai Senjata Dakwah dan Kritik
Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan medan tempur baru bagi kader PMII. Penguasaan terhadap teknologi informasi, mulai dari data science hingga pengelolaan media sosial yang strategis, menjadi kunci untuk melawan narasi radikalisme serta menyebarkan nilai-nilai moderasi Islam secara luas.

Globalisasi: Peluang dan Tantangan Intelektual
Globalisasi menuntut kader untuk memiliki kompetensi global. Hal ini mencakup:
​Kemampuan Berbahasa Asing: Sebagai alat komunikasi di kancah internasional.
​Kecakapan Profesional: Menyiapkan kader untuk mengisi pos-pos strategis di sektor profesional, bukan hanya di ranah politik.
​Ketahanan Budaya: Menjaga kearifan lokal (lokalitas) di tengah serbuan budaya populer dunia.
​”Kader PMII tidak boleh gagap teknologi. Kita harus mampu menjahit antara intelektualitas, spiritualitas, dan kapabilitas digital agar tetap relevan dengan zaman,” ujar salah satu tokoh senior pergerakan dalam sebuah diskusi daring baru-baru ini.

Ketika Guru Mengabdi, Negara Membalas dengan Ketimpangan

Roda globalisasi dan digitalisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Bagi PMII, pilihan yang tersedia hanya satu: beradaptasi atau tergerus. Dengan memegang teguh prinsip “Al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik), kader PMII optimis mampu menakhodai perubahan di era digital ini. ( AAN )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Welashari Terapi

Berita Populer





Arsip

Iklan LPK Kojema
Iklan kominfo