DEKLARASi ] Sumatera Barat- Pasaman Barat Rabu 25 Februari 2026, Bupati H.Yulianto S.H M.M dan beserta Jajaran Pemda Pasbar Hadir dalam penyelengaraan dan Peluncuran Sosialisasi Biochar Digital berbahan baku Limbah dijorong Bandarejo Nagari Lingkuang Aua Bandarejo Kecamatan, Pasaman dan Pasaman Barat, Selasa 24 Februari 2026.
“Ketika kita mendesripsikan letak Astronomis Kabupaten Pasaman Barat, berada pada letak kisaran Kabupaten Pasaman Barat secara astronomis terletak pada kisaran 0°03′ Lintang Utara – 0°11′ Lintang Selatan 99°10′ – 100°04′ Bujur Timur Posisi ini menempatkan Pasaman Barat tepat di sekitar garis khatulistiwa, sehingga beriklim tropis dengan suhu relatif hangat sepanjang tahun, curah hujan cukup tinggi, serta kelembapan udara yang besar.
“Letak Geografis, Pasaman Barat berada di bagian barat Provinsi Sumatera Barat dan memiliki wilayah yang membentang dari pesisir hingga perbukitan.Adapun batas-batas wilayahnya adalah:Utara: berbatasan dengan Sumatera UtaraSelatan: berbatasan dengan Kabupaten AgamTimur: berbatasan dengan Kabupaten PasamanBarat: berbatasan langsung dengan Samudra Hindia Secara geografis, wilayah ini memiliki kombinasi dataran rendah pesisir, lahan pertanian, serta kawasan perbukitan yang menjadi bagian dari rangkaian Bukit Barisan. Kondisi tersebut menjadikan Pasaman Barat potensial di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.Get smarter responses, upload files and images, and more.Log inSign up for free.
“Wilayah pesisir barat Provinsi Sumatera Barat dan dikenal sebagai daerah dengan potensi pertanian dan perkebunan yang besar, seperti jagung, kakao, kopi, dan nilam. Kondisi tanah yang luas serta ketersediaan limbah pertanian menjadi faktor pendukung pengembangan biochar sebagai pembenah tanah dan penyerap karbon.Lokasi kegiatan yang berada di kawasan pertanian aktif dinilai strategis karena dekat dengan sumber bahan baku seperti jerami padi, limbah jagung, bambu, dan tanaman perkebunan lainnya. Selain mendukung pengurangan emisi karbon, program ini juga diharapkan memperkuat ketahanan lahan pertanian di wilayah dengan curah hujan tinggi dan karakter tanah tropis.
“Dengan posisi geografis yang mendukung sektor agraria, Pasaman Barat berpotensi menjadi salah satu sentra pengembangan biochar dan perdagangan karbon di Sumatera Barat.
“Pertanian ini adalah salah satu ekonomi produksi Rumah tangga memberikan energi pendapatan Rumah tangga dan memamfaatkan limbah secara pengetahuan kearifan lokal mengintengrasikan secara digital yang menyumbang peningkatan ekonomi daerah dan keajang internasional secara terarah,terukur dan berkelanjutan dengan hal ini barang kali, perlu sekali dieloborasikan ekonomi produksi pemerintah agar ini biar terjaga, terawat yang bertujuan menunjang penghasilan nominal yang produktif agar kas daerah bertambah dan mengurangi defisit anggaran secara struktural yang terorganisir yang berdampak pembagunan daerah yang makmur dan sejahtera sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah atau lebih spesifik, Pasal 33 UUD 1945 yang menyebutkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat adalah tujuan negara untuk bersama.
“Program kolaborasi antara Reclimate Sdn. Bhd. dan Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat tersebut mengusung implementasi kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sesuai Peraturan Presiden tentang Nilai Ekonomi Karbon, serta terafiliasi dengan lembaga karbon internasional seperti Gold Standard dan Verra.
*Analisis Sosial*
Antara Ekologi Politik dan Kapitalisasi Karbon Dalam perspektif ekologi politik,ketika kita melihat bahwa pengelolaan biochar tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa antara korporasi, negara, dan petani, Transformasi limbah pertanian menjadi kredit karbon memang berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi. Namun, pertanyaan mendasar muncul: siapa yang paling diuntungkan dari skema perdagangan karbon ini? Secara teoritis, skema pasar karbon sering dikritik sebagai bentuk komodifikasi krisis iklim, di mana persoalan lingkungan direduksi menjadi transaksi ekonomi. Jika tidak diatur dengan prinsip keadilan distributif, petani hanya menjadi pemasok bahan baku murah dalam rantai nilai global, sementara keuntungan terbesar terserap oleh aktor bermodal besar dan lembaga sertifikasi internasional.
“Ketua Raja Aksi Mahasiswa Sumatera Barat(RAMS) M.Hidayat S.Pd menilai penting adanya transparansi pembagian manfaat (benefit sharing) agar tidak terjadi apa yang dalam teori dependensi disebut sebagai ekstraksi nilai dari pinggiran ke pusat di mana daerah produsen tetap berada pada posisi subordinat dalam sistem ekonomi global.
“Dimensi Keadilan Iklim Dari sudut pandang climate justice, inovasi biochar memang relevan dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi hingga 43,2 persen pada 2030. Namun, keadilan iklim menuntut lebih dari sekadar penurunan angka emisi. Ia mensyaratkan partisipasi aktif masyarakat lokal, perlindungan hak atas tanah, serta peningkatan kesejahteraan petani secara nyata.sehingga menegaskan bahwa solusi iklim tidak boleh berhenti pada pendekatan teknokratis seperti “soil charger” dan digitalisasi karbon.
“Ketika dibutuhkan adalah transformasi struktural dalam sistem produksi pertanian dari model ekstraktif menuju agroekologi yang berkelanjutan dan berdaulat.Kontrol Sosial dan Partisipasi Publik Dalam kerangka teori kontrol sosial, mahasiswa berkomitmen menjalankan fungsi pengawasan terhadap implementasi program ini. Pengawasan tersebut mencakup:Transparansi nilai kredit karbon yang dihasilkan.Skema pembagian keuntungan kepada petani.
“Dampak jangka panjang terhadap kedaulatan pangan lokal.Independensi daerah dalam menentukan kebijakan lingkungan, mendorong agar pemerintah daerah tidak hanya berorientasi pada potensi pendapatan baru, tetapi juga memastikan bahwa inovasi ini memperkuat posisi tawar petani dalam rantai ekonomi karbon global.
“Sikap Kritis Transformatif Sebagai agen of chage perubahan sosial, mahasiswa menyatakan dukungan terhadap inovasi berbasis limbah pertanian tersebut dengan catatan: keberlanjutan ekologis harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. Tanpa itu, biochar digital berisiko menjadi instrumen “green capitalism” yang membungkus logika pasar dengan narasi penyelamatan lingkungan.
“Pasaman Barat memiliki peluang menjadi pelopor transisi hijau di Sumatera Barat. Namun, arah transisi tersebut harus berpihak pada rakyat, bukan semata pada mekanisme pasar karbon internasional.“Gerakan iklim harus dimulai dari desa, tetapi kendali atasnya harus tetap berada di tangan masyarakat, ketika pasca diluncurkan biochar digital ini semoga planning dan arahnya tetap sasaran pada masyarakat yang berdampak apa yang dimulai harus diselesaikan dan ketika diluncurkan kita yang yakin dan percaya yang dilaksanakan Bapak Bupati H Yulianto S.H,M.M dan jajaran Pemda Pasaman Barat pasti akan merakyat dan meningkat pendapatan masyarakat dan daerahnya dan menumbuhkan mental pejuang dalam bertani dan bukan mental koloni.
(Mr Nst)

Komentar