Karya: Layla Nur Safa
Kelas : XI DKV
Taruni SMKN I Talawi
Keluarga…kata sederhana yang menyimpan makna paling dalam dalam hidupku.
Sejak kecil, aku tumbuh di keluarga sederhana. Keluarga cemara, begitulah orang bilang hangat, rapi, dan penuh cinta. Di situlah pertama kalinya aku merasakan kasih sayang seorang ayah. Namun, ketika aku berusia empat tahun, baru masuk TK, segalanya berubah. Ayah merantau jauh. Tinggallah aku dan ibu berdua di rumah kecil kami.
Suatu malam, aku bertanya pada ibu sambil memeluk guling kecilku. “Bu… Ayah kapan pulang?” Ibu tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Sabar ya, Nak… Ayah sedang berjuang untuk kita”.
Saat aku kelas satu SD, Ayah pulang. Rasanya dunia seperti dipenuhi kembang api. “Ayah!” teriakku sambil berlari memeluknya. Ayah tertawa dan mengangkatku. “Anak Ayah sudah besar, ya…” Sebulan bersama terasa seperti mimpi. Tapi waktu cepat berlalu. Ayah kembali pergi, dan hatiku ikut terbang bersamanya setengah hilang, setengah tertinggal. Ketika Usiaku sepuluh tahun Ayah pulang lagi. Kali ini lebih lama.
Suatu malam, aku mendengar percakapan ibu dan ayah. “Saya hamil,” kata ibu perlahan. Ayah tersenyum, memegang tangan ibu. “Alhamdulillah… keluarga kita akan bertambah.” Mendengar itu, hatiku bergetar. Senang… karena aku akan punya teman. Sedih… karena takut tidak lagi disayang. Tiga bulan kemudian, ayah pergi lagi. Katanya, untuk masa depan kami. Dan kali ini ia mendapat gaji cukup besar.
Adikku lahir ketika aku berusia sebelas tahun. Betapa lucunya dia—kecil, mungil, dan harum. Aku menciumi pipinya. “Nanti kalau besar, kamu main sama Kakak, ya.” Setahun kemudian, ayah kembali pergi mencari rezeki. Perjalanan hidup keluargaku terus diwarnai jarak, perjuangan, dan kesepian. Hingga suatu hari, ketika semua mulai terlihat baik, justru badai menimpa rumah kami.
Ibu menatapku dengan mata yang tak pernah kulihat sebelumnya: mata yang penuh luka. “Kamu… mau ikut Ayah atau Ibu?” Aku terdiam. Dunia rasanya runtuh. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Bu… kenapa harus milih?” tanyaku lirih. Ibu mengusap wajahnya sendiri yang basah. “Maafkan Ibu. Kadang orang dewasa pun kalah oleh ego mereka.” Aku ingin marah, tapi tak mampu. Aku hanya merasa kosong. Sejak itu, keluarga yang dulu kukenal sebagai “keluarga cemara” berubah jadi reruntuhan. Orangtuaku berpisah.
Aku anak perempuan yang dipaksa mengerti keadaan harus tetap berdiri meski hatiku runtuh berkali-kali. Ayah punya uang, tapi aku tidak dekat dengannya. Ibu punya kasih sayang, dan aku sering berpikir… “Andai saja dulu mereka tidak berpisah… mungkin hidupku tidak serumit ini.” Tapi kenyataan tak bisa ditarik ulang. Tak semua orang mengerti bagaimana rasanya bertahan sebagai anak perempuan dari keluarga yang hancu, yang dituntut kuat, tanpa pernah ditanya, “Bagaimana dengan hatimu?”.
Aku ingin keluarga yang hangat. Aku ingin kembali merasakan pelukan seperti dulu. Aku ingin rumah yang tenang, bukan rumah penuh retakan. Namun untuk sekarang… yang bisa kulakukan hanya satu: Bertahan. Sampai suatu hari nanti, aku bisa membangun keluarga cemara versiku sendiri yang tidak mudah runtuh, meski diterpa badai.
TAMAT…

Komentar