Aceh Opini
Beranda | Ketika Guru Mengabdi, Negara Membalas dengan Ketimpangan

Ketika Guru Mengabdi, Negara Membalas dengan Ketimpangan

Ketika Guru Mengabdi, Negara Membalas dengan Ketimpangan
Foto: Ketika Guru Mengabdi, Negara Membalas dengan Ketimpangan

Ditulis oleh: Muchlis Tanjung

DEKLARASI | Lhokseumawe – Setiap pagi, guru berdiri di depan kelas dengan satu tujuan mulia: mendidik dan mencerdaskan generasi bangsa.

Mereka datang lebih awal, pulang paling akhir, membawa pekerjaan hingga ke rumah, serta kerap mengorbankan waktu bersama keluarga.

Namun di balik pengabdian tersebut, realitas pahit masih terus berlangsung – penghasilan guru, khususnya guru honorer, kerap lebih kecil dibandingkan pekerja sektor lain, termasuk pekerja MBG.

Ketimpangan ini bukan semata persoalan angka gaji, melainkan menyangkut nilai dan penghargaan negara terhadap profesi pendidik.

Kisruh Koperasi Merah Putih Lubuk Cuik: Legalitas Undangan Rapat dan Pengelolaan Modal Dipertanyakan

Guru memikul tanggung jawab besar dalam membentuk akal, karakter, dan masa depan anak-anak bangsa. Ironisnya, kesejahteraan mereka justru tertinggal jauh.

Tidak sedikit guru honorer yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup, tanpa jaminan masa depan yang jelas.

“Ini adalah ironi besar. Negara menempatkan pendidikan sebagai prioritas, tetapi orang-orang yang menjalankan pendidikan justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi,” ujar Muchlis Tanjung.

Menurutnya, ketika guru dipaksa bertahan dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib guru itu sendiri, melainkan kualitas pendidikan nasional. Beban ekonomi yang berat akan berdampak langsung pada fokus, kesejahteraan mental, dan profesionalisme tenaga pendidik.

Muchlis menegaskan, jika guru terus diposisikan semata sebagai profesi pengabdian tanpa jaminan kesejahteraan yang adil, maka pendidikan akan kehilangan martabatnya.

Inalum Bangun Kembali SDN 49 Batang Kabung dan Buka Layanan Kesehatan Gratis Pascabanjir di Padang

Bangsa yang besar, kata dia, tidak akan lahir dari sistem yang membiarkan pendidiknya hidup di bawah standar kelayakan.

“Sudah saatnya negara hadir secara nyata. Kesejahteraan guru harus menjadi ukuran keseriusan pemerintah dalam membangun pendidikan, bukan sekadar slogan,” tegasnya.

Ia menambahkan, guru tidak menuntut kemewahan. Yang mereka harapkan hanyalah keadilan dan penghargaan yang setimpal atas peran strategis yang mereka jalankan dalam membangun masa depan bangsa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Welashari Terapi

Berita Populer





Arsip

Iklan LPK Kojema
Iklan kominfo