Karya : Anggi Hakiki
Kelas XI DKV
TARUNI SMKN I TALAWI
Sejak umur enam tahun, hidupku sudah akrab dengan kepergian. Ayah dan Ibu merantau jauh, meninggalkanku di kampung bersama orang tua angkatku di sebuah rumah kayu sederhana. Meski bukan orang tua kandung, mereka merawatku dengan penuh perhatian membuatkan sarapan, menemaniku tidur, dan mengajakku bermain di halaman tanah yang selalu basah setelah hujan. Di rumah kayu itu, aku merasa aman. Tidak ada omelan keras, tidak ada tatapan tajam. Hanya kehidupan sederhana yang memberi ruang bagi seorang anak untuk tumbuh tanpa takut.
Ketika aku berusia delapan tahun, semuanya berubah lagi. Suatu pagi, nenek datang dari kota, menjemputku dengan wajah lelah namun penuh keyakinan. “Nak, ikut Nenek ke kota, ya. Biar sekolahmu lebih baik,” katanya sambil mengusap kepalaku.
Orang tua angkatku tersenyum, meski matanya tampak berat. “Ikutlah, alifa. Masa depanmu lebih cerah di sana.” Aku memeluk mereka, lalu pergi bersama nenek.
Semua terasa baru di kota, sekolah, lingkungan, teman-teman. Nenek membelikanku baju baru, sepatu baru, buku-buku yang warnanya cerah. Dalam beberapa waktu, aku merasa hidupku berjalan baik-baik saja. Namun beberapa tahun berlalu, sikap nenek mulai berubah. Awalnya tidak begitu terlihat, sekedar gumaman kesal atau wajah yang lebih cepat bosan. Lama- kelamaan, nada suaranya menjadi lebih sering tinggi. Kadang aku hanya duduk diam, tapi tetap dimarahi. Kadang aku ingin bercerita, tapi malah disambut dengan sikap dingin.
Aku tidak mengerti apa yang salah. Aku hanya tahu suasana rumah tidak lagi sehangat dulu. Sampai suatu malam, kejadian yang membuatku sangat mengingat rasanya menjadi tidak diinginkan. Aku, Nenek, Tante, dan Om pergi menikmati suasana kota. Anginnya hangat, lampu jalan berkelip, suasana sebenarnya cukup menyenangkan. Saat berhenti di depan gerai makanan, tante menoleh padaku. “Alifa, kamu mau makan apa?” Seperti biasa, aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Aku hanya diam dan menunduk. Belum sempat aku menjawab, nenek sudah berkata cepat, “Belikan aja mie rebus satu bungkus.” Kata nenek tanpa ragu. Aku mengangguk pelan. Aku tidak meminta apa-apa, tapi aku tidak mau menimbulkan masalah. Sampainya di rumah, kami duduk di meja makan. Nenek membuka bungkusnya dan meletakkan mie rebus itu tepat di depanku. “Nih, makan. Habisin,” katanya tegas aku mengambil sendok, mencoba makan sedikit. Tapi porsinya terlalu banyak, dan aku benar-benar tidak sanggup untuk mengahabiskan mie rebus tersebut. “…Nek,” kataku pelan. “Alifa nggak sanggup ngabisin. Lagi pula tadi Alifa nggak minta dibeliin apa-apa…”Nenek langsung menoleh, suaranya naik. “Hah?! Kamu bilang nggak minta? Jelas tadi kamu bilang mau ini!” aku kaget. “A-Alifa tadi diam, Nek…” Nenek membalas lebih keras,“Jangan banyak alasan! Kamu tuh tadi bilang mau!”.
Aku terdiam…tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya tidak ada kata yang bisa membuat situasinya lebih baik. Tante mencoba menenangkan ku, “Nek, Alifa tadi nggak ngomong apa-apa, kok…” Tapi nenek sudah terlanjur marah. “Udahlah! Suruh aja habisin!”. Aku menunduk, menatap mangkuk, tanpa berani menyentuhnya lagi. Akhirnya om bicara, suaranya lembut, “Udahla, Ma. Biar aku aja yang habisin.” Kata Om sambil mengambil mangkuk dan menariknya. Nenek pergi dari meja makan sambil mendengus, meninggalkan suasana yang tiba-tiba hening. Tante memegang tanganku pelan. “Maaf ya, Sayang. Kamu nggak salah.” Om ikut mengangguk, “Iya, Alifa. Jangan sedih, ya…..” Kata Tante. Aku langsung mengusap pipiku yang basah. Aku tidak marah, aku hanya bingung kenapa hal kecil bisa berubah jadi sesuatu yang menyakitkan.
Keesokan paginya, saat aku sedang melipat selimut, nenek masuk ke kamarku. Suaranya lebih pelan dari biasanya. “Alifa…” panggilnya. Aku menoleh. Nenek berdiri di depan pintu, tampak ragu sebelum mendekat. “Tadi malam Nenek… kebablasan ngomel,” katanya, menatapku sebentar lalu menunduk. “Maafin Nenek, ya. Nenek capek… tapi tetap nggak seharusnya marah begitu.” Aku terdiam beberapa detik. Bukan marah, hanya masih kaget mendengar ia meminta maaf. “Iya, Nek… nggak apa-apa,” jawabku pelan. Nenek mengangguk, lalu mengusap kepalaku. “Terima kasih ya cucu nenek”.
Pagi itu terasa berbeda. Karena nenek telah mengakui akan kesalahannya. Suasana rumah kembali bahagia. Namun Sejak malam itu, aku tidak lagi menyukai mie rebus. Bukan karena rasanya, tapi karena setiap melihat mie rebus, aku teringat suasana meja makan malam itu. Kenangan yang selalu mengingatkanku pada rasa terpaksa dan luka yang tak terlihat. Dan dari situ, aku belajar bahwa meski luka kadang datang tanpa pilihan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki sesuatu meski kecil, meski sederhana.
Dari semua yang terjadi, aku belajar bahwa tidak tinggl bersama orang tua memang menyakitkan. Tapi dipersalahkan tanpa alasan jauh lebih menusuk. Meski begitu, aku tetap melanjutkan hidup. Karena pada akhirnya, ada luka yang memang tidak kupilih…
tapi bisa kupelajari cara menghadapinya. TAMAT……

Komentar
bagus banget cerita kamuu 😍