Karya: Eryka Diva Aulia
Kelas : XI DKV
TARUNI SMKN I TALAWI
Di sebuah kota kecil, seorang anak bernama Rika. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, Pak Efan dan Buk Yuni. Meskipun hidup sederhana, keluarga itu selalu berusaha menjalani hari dengan penuh kerja keras.
Buk Yuni sendiri berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Orang tuanya bernama Kek Badi dan Nek Iyem. Kek Badi bekerja sebagai petugas pembersih pemakaman, sedangkan Nek Iyem adalah seorang petani yang setiap hari menanam dan merawat tanaman di ladangnya.
Suatu hari, Kek Badi jatuh sakit. Tubuhnya semakin lemah, tetapi di hatinya hanya ada satu keinginan: bertemu dengan anaknya, Buk Yuni. Karena itulah, atas permintaan Kek Badi, Nek Iyem mencoba menelpon anaknya. “Kring… kring…”Telepon pun berbunyi.
“Assalamualaikum,.. nak,” ucap Nek Iyem dengan suara pelan. “Waalaikumsalam, buk,” jawab Buk Yuni dengan lembut. “Ayah sakit, nak…. Segeralah pulang… Ayah sangat merindukan kalian.” Buk Yuni terdiam sejenak. Ia menatap tumpukan pekerjaan yang belum selesai. “Maaf ya, buk… kami belum bisa pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Nek Iyem terdiam. Ada rasa kecewa yang ia sembunyikan.
“Iya, nak…”Telepon pun ditutup.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun Buk Yuni belum juga datang menjenguk orang tuanya. Kek Badi yang semakin lemah kembali meminta Nek Iyem untuk menelpon anaknya.
“Kring… kring…” “Assalamualaikum, nak,” ucap Nek Iyem lagi. “Waalaikumsalam, buk.” “Ayah sangat merindukan kalian. Kapan kalian bisa datang menjenguk ayah, nak?”
Dengan suara pelan Buk Yuni menjawab, “Maaf buk… kami benar-benar belum bisa datang karena pekerjaan yang tak kunjung selesai.” Mendengar jawaban itu, hati Nek Iyem terasa semakin berat. “Iya, nak…” Telepon pun kembali ditutup.
Keesokan harinya, telepon kembali berbunyi. “Kring… kring…” Buk Yuni segera mengangkatnya. “Assalamualaikum, Yuni,” terdengar suara dari seberang telepon. Ternyata itu Buk Eni, salah satu tetangga Nek Iyem. “Waalaikumsalam, kak. Loh… ibu mana? Kok kakak yang menelpon Yuni?” Suara Buk Eni terdengar berat. “Yuni… kakak mau memberitahu. Cepatlah pulang… Ayahmu sudah meninggal, Yun.”
Seakan dunia berhenti berputar, Buk Yuni terdiam. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Apa… Ayah meninggal, kak? Baiklah… aku akan segera pulang.” Telepon pun ditutup dengan hati yang penuh kesedihan. Buk Yuni, Pak Efan, dan Rika segera berangkat menuju rumah orang tua Buk Yuni.
Sepanjang perjalanan, Buk Yuni hanya bisa menangis. Rasa penyesalan terus menghantui pikirannya. Tak lama kemudian mereka pun tiba. Buk Yuni berlari masuk ke dalam rumah. Di sana, terbaring tubuh Kek Badi yang telah kaku diselimuti kain putih. “Ayah…”Buk Yuni langsung memeluk jenazah Ayahnya sambil menangis tersedu-sedu. “Maafkan Yuni, Yah… Yuni terlambat…” Pak Efan dan Rika hanya bisa berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Suasana rumah dipenuhi kesedihan. Tak lama kemudian, jenazah Kek Badi dibawa ke pemakaman tempat yang selama ini beliau rawat dengan penuh kesabaran. Buk Yuni hanya bisa berjalan sambil menangis. Di hatinya tersimpan penyesalan yang begitu dalam karena tidak sempat memenuhi permintaan terakhir Ayahnya.
Sejak hari itu, Buk Yuni berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lagi menunda waktu untuk orang-orang yang ia sayangi, terutama kedua orang tuanya. Dari kejadian itu, Rika pun belajar sebuah pelajaran berharga. Bahwa bukan waktu yang berjalan terlalu cepat, tetapi sering kali kita yang lalai membagi waktu.
Pada akhirnya, keluarga adalah tempat kita pulang. Dan ketika kesempatan itu telah hilang, yang tersisa hanyalah penyesalan terakhir.

Komentar