Cerpen
Beranda | Semangat di Balik Buku

Semangat di Balik Buku

Semangat di Balik Buku
Karya: Nurhasanah

Karya: Nurhasanah
Kelas : XI DKV
Taruni SMKN I TALAWI

                Pagi yang cerah saat di sekolah, selalu terasa hidup bagi Hana. Suara langkah kaki siswa yang bergegas ke kelas, sapaan teman-teman, dan dering bel yang nyaring menjadi bagian dari hari-harinya. Di antara semua siswa, Hana dikenal sebagai murid yang rajin belajar. Nilai-nilainya hampir selalu tinggi, dan namanya sering disebut ketika guru memuji siswa yang aktif dan berprestasi. Selain belajar, Hana juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Namun, beberapa minggu terakhir semuanya terasa berbeda.

            Tugas sekolah mulai menumpuk seperti gunung kecil di meja belajarnya. Setiap guru memberikan pekerjaan rumah, laporan, dan persiapan ujian. Awalnya Hana masih mampu mengatasinya, tetapi lama-kelamaan ia merasa kewalahan.

            Di kelas, pikirannya sering melayang. Penjelasan guru yang biasanya mudah ia pahami kini terasa seperti kata-kata yang berputar tanpa makna. Nilai ulangan yang biasanya tinggi mulai menurun. Hal itu membuat hati Hana semakin gelisah.

            Suatu siang sepulang sekolah, Hana duduk sendirian di perpustakaan. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara halaman buku yang sesekali dibalik oleh beberapa siswa.

MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN

Di hadapannya, sebuah buku pelajaran terbuka. Namun, matanya hanya menatap kosong ke arah halaman itu. Hana menghela napas pelan. Kenapa rasanya sekarang semuanya sulit sekali? pikirnya.

            Semangat belajar yang dulu begitu kuat seakan perlahan memudar. Tiba-tiba sebuah suara memecah lamunannya. “Hana, kenapa kamu melamun?” tanya Alya sambil duduk di kursi di sebelahnya. Hana sedikit terkejut dan tersadar dari pikirannya. “Gak apa-apa, Alya…” jawab Hana pelan. Alya menatap sahabatnya itu dengan penuh perhatian. Ia bisa melihat bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Hana. “Kamu lagi ada masalah, Han,” kata Alya lembut.

Hana menunduk sejenak. Ketika ia kembali menatap Alya, matanya mulai berkaca-kaca.

            Suasana yang hening Hana menceritakan perasaan yang tengah dialaminya.”Alya… aku merasa tidak bisa mengikuti pelajaran lagi. Aku membaca, tapi seperti tidak memahami apa-apa. Nilai-nilaiku juga mulai turun. Rasanya aku tidak bisa mengejar semuanya.” Alya tersenyum hangat. “Kamu tahu, Hana,” katanya pelan, “aku juga pernah merasa seperti itu.” Hana menatapnya dengan heran. “Iya. Waktu itu aku juga merasa pelajaran terasa berat. Tapi kemudian aku sadar, setiap orang punya cara belajar yang berbeda-beda. Tidak harus selalu sama seperti sebelumnya. Kadang kita hanya perlu menemukan cara baru yang lebih cocok.”

            Kata-kata Alya membuat Hana terdiam. Ia mulai memikirkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Alya melanjutkan, suaranya penuh keyakinan. “Aku percaya kamu bisa melewati ini, Hana. Kamu hanya sedang lelah, bukan berarti kamu tidak mampu. Yang kamu butuhkan hanya semangat dan tekad untuk mencoba lagi.” Perlahan, hati Hana terasa lebih ringan. Seperti ada cahaya kecil yang kembali menyala di dalam dirinya. Ia menatap Alya dengan senyum tipis. “Alya… terima kasih sudah menyemangatiku,” kata Hana. Alya ikut tersenyum. “Kita bisa melewati ini bersama-sama, Hana. Aku ada di sini untukmu.” Hana mengangguk. Mereka kemudian membuka buku pelajaran di meja. Kali ini Hana mencoba membaca kembali dengan lebih tenang. Alya sesekali membantu menjelaskan bagian yang sulit.

LUKA YANG TIDAK AKU PILIH

            Di tengah keheningan perpustakaan, dua sahabat itu belajar bersama. Halaman demi halaman mulai mereka pahami. Di balik buku-buku yang terbuka itu, semangat Hana yang sempat redup kini perlahan menyala kembali lebih hangat, lebih kuat, dan penuh harapan. Karena terkadang, satu kata penyemangat dari seorang sahabat mampu menyalakan kembali mimpi yang hampir padam.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

blank
Welashari Terapi

Berita Populer



UTUH TAPI TIDAK CEMARA



Arsip

Iklan LPK Kojema
Iklan kominfo