Karya : Nazril Fajar Mulana
TARUNA SMKN I TALAWI
Namaku Raka. Orang bilang keluargaku terlihat harmonis. Ayah seorang pekerja keras, Ibu seorang wanita lembut yang selalu tampak rapi jika keluar rumah. Dari luar rumah kami seperti keluarga lain pintunya kokoh, catnya tidak pernah mengelupas, dan suara tawa kadang terdengar dari ruang tamu ketika ada tamu berkunjung.
Tapi di balik dinding itu, ada ruang yang penuh diam. Ayah dan Ibu jarang berbicara kecuali soal keperluan rumah. Tidak ada makan malam bersama, dan tidak ada pelukan. Rumah kami utuh, tapi hatinya tidak cemara, tidak rimbun oleh kasih sayang. Setiap malam aku belajar di meja kayu dekat jendela, berharap angin malam bisa membawa kehangatan yang tidak kudapatkan dari dalam rumah.
Suatu hari, aku mendengar suara Ayah dan Ibu dari ruang tamu. Mereka jarang bertengkar, tapi ketika itu suaranya keras, seperti dua batu yang saling membentur. Ibu berkata “Dia anak kita, Mas…,” suara Ibu bergetar. Lalu Ayah menjawab “Aku sudah lelah. Kamu tahu itu,?” jawab Ayah, datar namun menusuk.
Tubuhku bergetar mendengar namaku disebut membuatku merasa bersalah tanpa tahu kenapa. Sejak hari itu, Ayah semakin jarang pulang dan Ibu semakin sering menutup diri. Aku mencoba bertanya alasan mereka bertengkar, tapi Ibu hanya tersenyum lemah dan berkata, “Belajarlah yang rajin, nak…!!” Senyum ibu yang membuat hatiku semakin retak.
Suatu pagi, aku melihat meja makan dalam keadaan berbeda kursi Ayah kosong, dan di atasnya terdapat sepucuk surat. Tulisan tangan Ayah pendek dengan bahasa yang dingin. Ayah berkata “Aku butuh waktu. Jangan cari aku..!!” dan Ibu membacanya kemudian ia terduduk, menangis tanpa suara.
Melihat Ibu seperti itu membuat dadaku sesak. Aku ingin memeluknya, tapi kakiku seperti dipaku oleh lantai. Aku hanya bisa berdiri, merasa tidak berguna.
Hari itu aku tidak masuk sekolah. Aku hanya berbaring di kamarku, berharap Ayah tiba-tiba muncul di pintu sambil berkata itu semua hanya salah paham. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Untuk pertama kalinya, rumah yang selama ini sepi berubah menjadi tempat yang benar-benar kosong.
Enam hari setelah Ayah pergi, Ibu datang ke kamarku. Matanya sembab, wajahnya lelah, tapi ia berusaha tersenyum. Ibu berkata “Raka… maafkan Ibu” katanya pelan, lalu Raka menjawab “Aku yang harus minta maaf. Karena aku yang bikin Ayah pergi dari rumah….” sambil menunduk Ibu langsung memelukku, pelukan yang sudah lama tidak pernah aku dapatkan. Ibu sambil berkata “Tidak, nak. Ini bukan salahmu. Orang dewasa juga bisa salah. Orang tua juga bisa terluka.”
Pelukan itu membuatku menangis. Semua rasa yang lama kupendam mengalir keluar. Setelah hari itu, kami mulai bicara lebih sering. Ibu memasak makanan kesukaanku, kami makan bersama meski kursi Ayah kosong. Ada perih, tapi ada upaya. Ada luka, tapi ada langkah kecil untuk menyembuhkan.
Tiga puluh hari setelah Ayah pergi, ia kembali. Tidak dengan wajah marah, tidak dengan tatapan dingin, tapi dengan mata yang basah dan suara yang bergetar. Ayah berkata “Aku salah. Aku terlalu lelah dan malah melukai kalian,” kata Ayah dengan penuh penyesalan dan sambil menunduk.
Untuk pertama kalinya, Ayah memeluk kami berdua sambil menangis, Namun tangisku itu bukan tangis yang sama seperti sebelumnya tangis lega dan bahagia.
Sejak hari itu, Ayah mulai berubah. Pulang tepat waktu, makan malam bersama kami, dan kadang mengajakku jalan- jalan sore di taman kecil dekat rumah. Rumah kami kembali
utuh, semakin sejuk, semakin penuh cinta yang diusahakan.
Cerita ini mengajarkan bahwa kesempurnaan bukanlah syarat untuk kebahagiaan. Keluarga bisa tidak sempurna, penuh masalah, namun tetap bisa menjadi tempat untuk pulang jika setiap orang mau berusaha saling memahami. Yang utuh belum tentu indah, tapi yang diperjuangkan selalu bernilai.
Tamat…..

Komentar