Karya: RIRIN SITOHANG
Kelas: XI DKV
TARUNI SMKN I TALAWI
Hai, perkenalkan nama ku iin.
Setiap pagi sebelum matahari muncul, aku selalu terbangun karena suara ayam jantan di belakang rumah. Embun masih menempel di rumputan dan daun , pagi terasa segar menusuk ke dalam kulit. Setelah bersiap, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Di sekolah, semuanya berjalan dengan lancar, tapi begitu bel pulang berbunyi, aku langsung begegas pulang untuk beristirahat.
Begitu sampai di rumah, Mama langsung memanggilku dari dapur, “iin.. nanti jaga sawah yang di belakang rumah ya…burung burung semangkin banyak, Mama mau ke sawah kita yang di kwala gunung”. Aku tertegun. Baru juga pulang, tubuh masih pegal karena belajar seharian “Ma.. aku capek.Bisa enggak kali ini Abang aja?”. Keluhku dengan nada kesal.
“Abangmu sudah menjaga sawah di rawa dolik nak, kamu hanya menjaga yang dekat rumah. Itu pun sampai jam 18.00, susah sekali kamu bantu Mama?”. Nada Mama mulai meninggi, aku ikut terbawa emosi, “tapi setiap hari aku, Ma… aku juga butuh istirahat, Mama tau kan aku sering ketiduran di kelas? Mama hanya pikirkan sawah terus”. Mama terdiam, wajahnya berubah seperti sedih & kecewa. “iin .. sawah itu bukan hanya sawah, itu harapan kita, itu cara Mama agar kalian bisa sekolah. Kalau burung memakan padi itu , apa yang mau kita panen? Kamu kira Mama senang begini? Kalau Mama punya pilihan Mama juga gak mau anak anak Mama kecapean.. tapi kita cuman punya sawah ini”.
Kata kata Mama membuat hatiku tersentuh , tapi hatiku penuh dengan rasa kesal, meski aku tau Mama benar. Aku mengalihkan pandangan, menahan air mata yang akan terjatuh. Setelah beberapa detik hening, aku menghembuskan napas panjang, “ya sudah Ma… iin jaga”. Mama tersenyum kecil, senyum yang jelas menahan banyak lelah, “ terimakasih nak, Mama berangkat dulu kesawah, kamu makan, ganti baju lalu kesawah ya ..”.
Setelah makan dan berganti pakaian aku pergi ke sawah, untuk melihat sudut demi sudut menggunakan leserku, sawah tampak tenang, tapi hatiku masih terasa berat, aku duduk di pematang membiarkan angin sore menenangkan sedikit beban ku. Namun itu baru permula, beberapa hari kemudian hujan deras turun tiba tiba, aku berlindung di gubuk kecil, burung burung datang, hinggap di padi mematuk cepat tanpa ampun, aku ingin berlari mengusir mereka tetapi hujan deras dan angin membuatku tidak berani keluar. Aku hanya bisa melihat, tidak berdaya, saat Mama datang ia terkejut melihat padi rebah dan sebagian tercabik.
“Iin, kenapa bisa begini? Mama sudah bilang padi kita hampir siap dipanen, kenapa kamu tidak menjaga baik baik?”. Nada Mama bukan marah… tetapi hancur dan itu lebih menyakitkan. aku menggigit bibir, suasana tercekat. “Ma… Iin nggak bisa keluar hujannya deras.. anginnya kencang.. Iin takut”. Mama memejamkan mata menahan emosi “Mama ngerti kamu takut.. tapi Iin ini hasil kerja kita berbulan bulan, sekali rusak ilang semua”. Aku tidak sanggup menjawab seperti seluruh dunia menyalahkanku malam itu aku menangis diam diam merasa semua terlalu berat untukku yang masih anak sekolah.
Hari hari berikutnya menjadi lebih sulit. Burung semangkin banyak, PR menumpuk aku mangkin sering tidur di kelas, guru menegurku, teman teman mengajak main tapi aku selalu menolak, aku mulai bertanya “kenapa aku harus menanggung semuanya?”. Tetapi setiap kali aku melihat Mama pulang membawa tubuh lelah & telapak tangan yang mulai kasar hatiku bergetar, aku sadar Mama jauh lebih lelah dariku, suatu sore, saat angin berhembus pelan dan cahaya jingga memenuhi langit aku duduk di pematang sawah, untuk pertama kalinya setelah hari hari berat itu hatiku terasa tenang, dan aku akhirnya mengerti “sawah ini bukan sekedar beban, sawah ini masa depan keluargaku..”.
Sejak hari itu aku mencoba berdamai dengan tugas yang Mama berikan, aku mulai mengatur waktuku menyelesaikan PR lebih cepat & menjaga sawah dengan sabar, kadang masih mengeluh capek.. tapi aku belajar menerima.
Bagi sebagian orang, sawah mungkin tempat yang membosankan, tapi bagiku sawah adalah guru kehidupan, dari sanalah aku belajar bahwa hidup tidak perlu megah. Sawah mengajarkanku tentang perjuangan, tanggung jawab, & cinta terhadap tanah yang menumbuhkan harapan.

Komentar
Mantap iin. Semangat terus ya, semoga kerja kerasmu menjadi pengalaman berharga untuk mencapai kesuksesan di masa depan. Tetap hormati orang tuamu ya iin.
Mantap iin. Semangat terus ya, semoga kerja kerasmu menjadi pengalaman berharga untuk mencapai kesuksesan di masa depan. Tetap hormati orang tuamu ya iin.
Senantiasa berdoa, bagi Tuhan Yesus tidak ada yg mustahil.
Wowww…
Mantap