Sumbar
Beranda | Ketika Data Menentukan Siapa yang Dibantu Tantangan Desil dalam Pengentasan Kemiskinan Didasarkan Sebuah Angka

Ketika Data Menentukan Siapa yang Dibantu Tantangan Desil dalam Pengentasan Kemiskinan Didasarkan Sebuah Angka

blank

Hikmah Tiara Mahasiswa Program Magister Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas Email: hikmahtiara111@gmail.com

DEKLARASI ] SUMBAR Sabtu 10 Oktober 2026, PADANG -Kemiskinan sering kali dibicarakan melalui sebuah angka. Pada Maret 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 8,07 persen, atau sekitar 22,93 juta orang (BPS, 2026a).

“Angka tersebut memang menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Tetapi, di balik jutaan angka tersebut ada pertanyaan yang jauh lebih penting: ketika pemerintah hendak membantu, bagaimana negara menentukan siapa yang benar-benar membutuhkan? Di balik angka tersebut terdapat persoalan yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana pemerintah menentukan masyarakat yang membutuhkan bantuan? Pemerintah memiliki berbagai program perlindungan sosial, tetapi sumber daya yang tersedia tetap memiliki keterbatasan.

“Oleh karena itu, ketepatan sasaran menjadi bagian penting dari kebijakan publik. Untuk mendukung proses tersebut, pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai rujukan dalam perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program. DTSEN dibangun dengan mengintegrasikan berbagai sumber data sosial ekonomi dan terus dimutakhirkan agar dapat menggambarkan kondisi masyarakat secara lebih aktual (BPS, 2026b).

“Salah satu informasi penting dalam DTSEN adalah desil, yaitu pemeringkatan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya. Keluarga dalam DTSEN dikelompokkan berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, kemudian dibagi ke dalam sepuluh kelompok yang masing-masing mencakup sekitar 10 persen keluarga.

Mahasiswa PPG Prajab UNP Tahun 2026 Latih Ibu -Ibu PKK Pokja II Dadok Tunggul Hitam Olah Rimpang Jadi Teh Herbal

: Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi. Namun, desil bukan ukuran absolut kemiskinan dan tidak dapat secara sederhana dimaknai bahwa desil 1 pasti miskin atau desil 10 pasti kaya (BPS, 2026b).

“Pemeringkatan desil juga tidak hanya melihat pendapatan. Berbagai karakteristik sosial ekonomi digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan keluarga, mulai dari kondisi perumahan, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi keluarga. Artinya, posisi seseorang dalam desil merupakan hasil dari kombinasi berbagai informasi, bukan ditentukan oleh satu indikator saja.

” (BPS, 2026b).Persoalan menjadi lebih kompleks karena kondisi ekonomi rumah tangga dapat berubah dari waktu ke waktu. Keluarga yang sebelumnya memiliki pendapatan cukup dapat mengalami penurunan kesejahteraan setelah kehilangan pekerjaan, mengalami masalah kesehatan, atau menghadapi penurunan usaha. Sebaliknya, keluarga yang sebelumnya berada dalam kondisi sulit dapat mengalami perbaikan setelah memperoleh pekerjaan atau sumber pendapatan baru.

“BPS menjelaskan bahwa posisi desil dapat berubah mengikuti perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga dan perubahan posisi relatifnya dibandingkan keluarga lainnya. Karena itu, DTSEN perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan kondisi masyarakat terkini (BPS, 2026b).Kasus Bapak Timbul di Kulon Progo memperlihatkan mengapa pemutakhiran data bukan persoalan administratif semata. BPS melaporkan bahwa posisi desil Bapak Timbul sempat berubah dari desil 1 menjadi desil 9.

“Setelah dilakukan pengecekan lapangan, informasi dalam DTSEN diketahui belum mencerminkan kondisi terkininya. Setelah dilakukan pemutakhiran, posisinya kemudian menjadi desil 3. Perubahan dari desil 1 ke desil 9 lalu kembali ke desil 3 bukan sekadar perubahan angka di dalam sistem. Di balik perubahan itu terdapat kehidupan seseorang yang nyata. (BPS, 2026c).Dalam kebijakan perlindungan sosial, ketidaktepatan sasaran dapat terjadi dalam dua arah yaitu inclusion error dan exclusion error. Ada masyarakat yang sebenarnya tidak lagi menjadi sasaran tetapi tetap tercatat sebagai penerima (inclusion error).

Konsolidasi Internal, AMAN Persiapkan Mahyudin Batubara Jadi Nakhoda Baru Putra Terbaik Pasaman Barat

” Sebaliknya, ada masyarakat yang membutuhkan bantuan tetapi justru tidak masuk dalam kelompok sasaran (exclusion error). Bagi masyarakat miskin, kesalahan kedua bisa menjadi persoalan serius: bagaimana jika seseorang membutuhkan bantuan hari ini, tetapi data masih merekam kondisi dirinya beberapa waktu lalu? Kedua persoalan tersebut penting karena ketepatan penyaluran bantuan berkaitan dengan efektivitas penggunaan anggaran publik. Bappenas juga menekankan bahwa peningkatan kualitas data diperlukan untuk menekan inclusion error sekaligus memperbaiki exclusion error dalam kebijakan perlindungan sosial (Kementerian PPN/Bappenas, 2026).

“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas DTSEN. BPS melaporkan bahwa pada DTSEN Volume 2 Tahun 2026 telah mencakup sekitar 95,3 juta keluarga atau 289,3 juta individu, termasuk pembaruan data demografi dan hasil verifikasi lapangan. Pemutakhiran tersebut juga dilaporkan menghasilkan penurunan inclusion error menjadi sekitar 0,06 persen serta penyempurnaan klasifikasi kesejahteraan pada puluhan ribu keluarga (BPS, 2026d).

“Capaian tersebut penting, tetapi tidak berarti pekerjaan selesai. Sebab, tantangan data bukan hanya seberapa besar cakupannya, melainkan seberapa cepat data mampu mengikuti perubahan kehidupan masyarakat.Namun, perbaikan data bukanlah tujuan akhir pengentasan kemiskinan. Data yang akurat memang diperlukan agar perlindungan sosial dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, tetapi bantuan sosial saja tidak cukup untuk menyelesaikan kemiskinan dalam jangka panjang.

“Perlindungan sosial perlu diikuti dengan pemberdayaan yang membuka akses masyarakat terhadap keterampilan, aset, pendapatan, dan kesempatan ekonomi. Dengan demikian, bantuan tidak berhenti pada upaya meringankan beban hari ini, tetapi juga memberi jalan bagi keluarga untuk keluar dari kerentanan secara berkelanjutan (Kementerian PPN/Bappenas, 2026).Pada akhirnya, desil sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai angka yang menentukan seseorang menerima atau tidak menerima bantuan.

” Desil merupakan salah satu alat untuk membaca posisi kesejahteraan masyarakat secara relatif dan membantu pemerintah dalam menentukan sasaran program sesuai dengan tujuan masing-masing program. Tantangannya adalah memastikan bahwa informasi yang digunakan benar-benar mutakhir, lengkap, dan dapat diverifikasi ketika kondisi masyarakat berubah. Partisipasi masyarakat dalam memperbarui informasi serta mekanisme pengecekan lapangan menjadi penting agar data yang digunakan pemerintah semakin mencerminkan kondisi sosial ekonomi yang sebenarnya (BPS, 2026b; BPS, 2026c).

Mahasiswa UNP Angkatan 2020 Dilaporkan Hilang, Keluarga Minta Bantuan Informasi

“Kemiskinan pada akhirnya bukan hanya persoalan tentang siapa yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi juga tentang bagaimana negara mengenali masyarakat yang membutuhkan dan memahami perubahan kondisi kehidupan mereka. Ketika data menentukan siapa yang dibantu, data tidak boleh berhenti sebagai angka dalam sebuah sistem. Di balik setiap desil terdapat keluarga dengan kondisi dan kebutuhan yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, memperbaiki kualitas data bukan sekadar memperbaiki angka, melainkan memastikan bahwa kebijakan negara tetap berpijak pada kondisi nyata masyarakat. Sebab, tidak ada angka yang lebih penting daripada manusia yang berada di baliknya.SumberBadan Pusat Statistik. (2026a, 5 Agustus).

” Persentase penduduk miskin Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen. BPS-Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/08/05/2594/persentase-penduduk-miskin-maret-2026-turun-menjadi-8-07-persen-.htmlBadan Pusat Statistik. (2026b, 22 Agustus). DTSEN jadi rujukan bersama, BPS jelaskan arti desil. BPS-Statistics Indonesia.

“https://www.bps.go.id/id/news/2026/08/22/938/dtsen-jadi-rujukan-bersama–bps-jelaskan-arti-desil.htmlBadan Pusat Statistik. (2026c, 30 Agustus). Respon cepat BPS tindak lanjuti pemutakhiran desil Pak Timbul. BPS Statistics Indonesia.

“https://www.bps.go.id/en/news/2026/08/30/939/respon-cepat-bps-tindak-lanjuti-pemutakhiran-desil-pak-timbul.htmlBadan Pusat Statistik. (2026d, 28 April). Pemutakhiran DTSEN tingkatkan akurasi pensasaran. BPS-Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/news/2026/04/28/902/pemutakhiran-dtsen-tingkatkan-akurasi-pensasaran.html

[Mr Nst)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Promosi Website Jagoweb

Banner Promosi Website Jagoweb

Welashari Terapi

Berita Populer





Arsip